Jumat, 21 September 2012

Bagaimana kita membela Rasulullah?

Oleh: Fahrur Mu'is, M.Ag

Akhir-akhir ini umat Islam disibukkan oleh serangan dari luar yang menghina Nabi Muhammad, baik lewat kartun, koran, buku, film, maupun media lainnya. Sebagai umat Islam, kita wajib membela kehormatan Rasulullah. Namun, sebelum itu kita terlebih dahulu perlu tahu siapakah orang-orang yang menghina Nabi Muhammad saw? Hal ini penting agar kita dapat mebela beliau dengan cara yang tepat dan benar.

Setidaknya, ada tiga golongan orang-orang yang menghina Nabi.
1.    Orang yang dengki kepada beliau
2.    Orang yang tidak mengetahui siapa beliau
3.    Orang yang terfitnah dengan keadaan dan kemunduran umat Islam

Dalam survey yang dilakukan oleh Dr. Raghib As-Sirjani sebagaimana ditulis dalam http://islamstory.com didapatkan data bahwa:
29,7% orang menghina Nabi karena tidak mengenal beliau,
35.5% karena dengki kepada beliau, dan
34.8% karena terkecoh oleh kemunduran kaum muslimin.

Orang-orang yang belum mengenal beliau tentu tak sedikit jumlahnya. Khususnya di dunia Barat.
Adapun tentang orang-orang yang dengki kepada Rasulullah dan Islam, maka sejak dahulu kelompok ini telah muncul. Al-Qur’an menjelaskan, “Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. Dan tiada seorang nabi pun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” (Az-Zukhruf: 6-7)
.
Pada zaman Rasulullah, telah dikenal nama-nama tokoh yang sering menghina beliau seperti Abu Jahal, Al-Walid bin Al-Mughirah, ‘Uqbah bin Abi Mu’ith, dan An-Nadhr bin al-Harits.

Adapun cara membela Rasulullah terhadap serangan tiga golongan tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Orang-orang yang dengki.
Kita harus bersikap tegas terhadap mereka dengan memberi peringatan keras, meminta mereka minta maaf kepada umat Islam atau bahkan mengusir dan memboikot mereka.
2.    Orang-orang yang bodoh
Kita harus berusaha mengenalkan siapa Rasulullah dan apa ajarannya kepada mereka malalui berbagai cara dan media.
3.    Orang-orang yang terfitnah karena kemunduran kaum muslimin
Umat Islam harus berusaha bersama-sama agar maju dalam setiap aspek kehidupan, baik ilmu, ekonomi, politik, dan terlebih akhlak mereka.














Jumat, 09 Maret 2012

Akibat Meninggalkan Amar Makruf Nahi Mungkar

Oleh: Fahrur Mu'is, M.Ag

Amar makruf dan nahi mungkar memiliki peranan penting dalam Islam. Hikmah yang terkandung di dalamnya pun tidak sedikit. Pertama, ia merupakan salah satu bentuk penyampaian hujjah bagi seluruh umat manusia secara umum, dan para pelaku maksiat secara khusus. Dengan demikian, ketika turun musibah dan bencana mereka tidak bisa berdalih dengan tidak adanya orang yang memberikan peringatan dan nasihat kepada mereka. Kedua, orang-orang yang telah menjalankannya akan terlepas dari kewajiban untuk melaksanakannya. Ketiga, membantu saudara seiman untuk melaksanakan kebajikan. Keempat, salah satu sebab terbesar untuk mendapatkan kepemimpinan di muka bumi.
Sebaliknya, akibat meninggalkan amar makruf dan nahi mungkar pun tidak kalah banyak. Berikut ini di antaranya.
1. Timbulnya kerusakan di muka bumi
Allah berfirman:
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al-Anfal: 25).
Azab Allah itu sangat pedih. Jika azab itu diturunkan di suatu tempat, maka ia akan menimpa semua orang yang ada di tempat tersebut, baik orang saleh maupun ahli maksiat. Dalam ayat ini, Allah memperingatkan kaum mukminin agar senantiasa membentengi diri mereka dari siksa tersebut dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta menyeru manusia kepada kebaikan dan melarang mereka dari kemungkaran.
Sebab, jika mereka meninggalkan amar makruf nahi mungkar, maka kemungkaran akan menyebar dan kerusakan akan meluas. Bila kondisi sudah demikian, maka azab pun akan diturunkan kepada seluruh komponen masyarakat. Di antara kerusakan yang timbul akibat meninggalkan amar makruf nahi mungkar adalah sebagai berikut: 
a. Para pelaku maksiat dan dosa akan semakin berani untuk terus melakukan perbuatan nistanya sehingga sedikit demi sedikit akan sirnalah cahaya kebenaran dari tengah-tengah umat manusia. Sebagai gantinya, maksiat akan merajalela, keburukan dan kekejian akan terus bertambah dan pada akhirnya tidak mungkin lagi untuk dihilangkan. 
b. Perbuatan mungkar akan menjadi baik dan indah di mata khalayak ramai, kemudian mereka pun akan menjadi pengikut para pelaku maksiat.
c. Salah satu sebab hilangnya ilmu dan tersebarnya kebodohan. Karena tersebarluasnya kemungkaran tanpa adanya seorang pun dari ahli agama yang mengingkarinya akan membentuk anggapan bahwa hal tersebut bukanlah sebuah kebatilan. Bahkan bisa jadi mereka melihatnya sebagai perbuatan yang baik untuk dikerjakan. Selanjutnya, sikap menghalalkan hal-hal yang diharamkan Allah dan mengharamkan hal-hal yamg dihalalkan-Nya semakin merajalela.
2. Menyebabkan turunnya siksa Allah
Di antara sebab turunnya siksa Allah adalah adanya kemungkaran yang merajalela, baik berupa kesyirikan, kemaksiatan, maupun kezaliman. Hal ini sebagaimana disebutkan Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy bahwa Rasulullah pernah mendatanginya dalam keadaan terkejut seraya berkata:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ. وَحَلَّقَ بِإِصْبَعِهِ الإِبْهَامِ وَالَّتِى تَلِيهَا. قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ.

Lâ ilâha illallâ! Celakalah bangsa Arab, karena kejelekan yang telah mendekat. Hari ini telah dibuka tembok Ya’juj dan Makjuj seperti ini–beliau melingkarkan ibu jari dengan jari telunjuknya.” Kemudian Zainab berkata, “Apakah kita akan binasa wahai Rasulullah, padahal di sekitar kita ada orang-orang saleh?” Beliau menjawab, “Ya, jika kemungkaran itu sudah merajalela.” (HR. Muslim).
Makna al-khabas menurut Muthafa Dib al-Bugha dalam Al-Jami’ ash-Shahih al-Mukhtashar meliputi kefasikan, kejahatan, dan kemaksiatan. Ketiga hal tersebut juga tergolong dalam makna “mungkar” yang berarti setiap perkara yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
Dalam Al-Jawab al-Kafi, Ibnul Qayyim menukil perkataan Ali bin Abi Thali:

مَا نَزَلَ بَلاَءٌ إِلاََّ بِذَنْبٍِ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاََّ بِتَوْبَةٍ
 
“Tidaklah musibah itu menimpa, kecuali disebabkan dosa, dan musibah itu tidak akan diangkat kecuali dengan taubat.”
Dari sini dapat dipahami bahwa tidak adanya amar makruf nahi mungkar akan menyebabkan tersebar luasnya kemungkaran. Banyaknya kemungkaran akan menyebabkan turunnya siksa Allah, meskipun di masyarakat tidak sedikit ditemukan orang-orang yang saleh.
3. Doa tidak dikabulkan
Akibat lain dari meninggalkan amar makruf nahi munkar adalah tidak dikabulkannya doa manusia. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah:
 وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ
Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, hendaknya kalian betul-betul melaksanakan amar makruf nahi mungkar atau (jika kalian tidak melaksanakan hal itu) maka sungguh Allah akan mengirim kepada kalian siksa dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya, akan tetapi Allah tidak mengabulkan doa kalian.” (HR Ahmad dan at-Tirmidzi. Dihasankan oleh al-Albani dalam Shahîhul Jâmi’).
Hadits tersebut menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan amar makruf nahi mungkar permintaannya tidak dikabulkan oleh Allah. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya selalu berusaha untuk melakukan amar makruf nahi mungkar sesuai dengan kemampuannya.

4. Mendapatkan laknat dari Allah

Umat yang tidak melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar akan mendapatkan laknat dari Allah. Hal ini telah terjadi pada Bani Isra’il, sebagaimana telah disebutkan dalam firman Allah:
“Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampauhi batas. Mereka satu sama lain senantiasa tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat, sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”
(Al-Maidah: 78-79).
Dalam ayat tersebut Allah mengabarkan kepada kita tentang kemaksiatan yang menyebabkan Bani Israil dilaknat oleh Allah. Yaitu mereka melakukan kemungkaran dan tidak ada seorang pun dari mereka yang mencegah saudaranya dari kemaksiatan yang ia lakukan. Maka, para pelaku kemungkaran dan orang yang membiarkannya mendapatkan hukuman yang sama.
Ath-Thabari dalam tafsirnya berkata, “Dahulu orang-orang Yahudi dilaknat Allah karena mereka tidak berhenti dari kemungkaran yang mereka perbuat dan sebagian mereka juga tidak melarang sebagian lainnya dari kemungkaran tersebut.” http://ustadzmuis.blogspot.com/




Kamis, 05 Januari 2012

AKIBAT ULAMA MENDIAMKAN KESESATAN

Apa akibat jika para ulama mendiamkan kesesatan yang terjadi di masyarakat? Berikut ini sebuah nasihat dari Muhammad Basyir Ibrahimi dalam kitab 'Uyun Al-Basyair.
 
Kekuatan dan kekuasaan memiliki pengaruh signifikan terhadap fisik dan jiwa. Keduanya adalah yang paling kuat pengaruhnya, paling tampak karakternya, dan paling lama menetap di dalam jiwa. Karena jalan untuk menguasai fisik adalah dengan menanamkan rasa takut, sedang perasaan takut semacam ini hanyalah bersifat sementara. Adapun pintu untuk menguasai jiwa adalah perasaan senang, sedangkan pendorongnya adalah qanaah dan ikhtiyar.

Sejatinya, ulama umat Islam memiliki pengaruh dan kekuasaan terhadap jiwa yang cukup besar. Hal ini banyak dipengaruhi oleh spiritualisme agama Islam dan karakternya yang mudah diterima jiwa manusia. Di hadapan para ulama, umat Islam secara umum akan tunduk dan patuh dengan sepenuhnya. Kepatuhan yang tulus, yang tidak dibuat-buat sama sakali. Karena dilandasi oleh kesadaran dan perasaan bahwa mereka adalah rujukan dalam menerangkan agama. Selain itu, ulama adalah penyambung lidah yang mampu mengungkapkan makna agama yang sejati dan hakiki.

Merekalah yang mampu menerangkan syariat Islam. Mereka pula yang dipercaya memikul tanggung jawab dalam mempertahankan keutuhan agama ini. Mereka yang mendapat kehormatan sebagai para pewaris Nabi.

Maka, fungsi ganda ulama adalah bertugas sebagai pemberi penjelasan dalam masalah peribadatan. Selain itu, mereka bertugas memutuskan hukum-hukum mu’amalah. Sedangkan tugas para penguasa sebenarnya hanyalah melaksanakan keputusan ulama yang mereka pandang lebih bermanfaat dalam pergaulan sehari-hari, baik yang bersifat individu maupun kemasyarakatan.

Kekuasaan yang mereka miliki semacam ini tampak cukup jelas pada masa pertama Islam jaya. Saat itu, ulama masih setia dan teguh pada Al-Qur’an dan Sunah. Mereka berjalan di atas jalan yang telah digariskan, dan berhenti di setiap batasan yang telah ditetapkan keduanya. Mereka gigih memerintahkan setiap perkara yang makruf menurut kaduanya. Sebaliknya, mereka tegar dalam mencegah setiap kemungkaran yang dinyatakan mungkar menurut keduanya. Mereka menuntun umat hanya dengan petunjuk keduanya sehingga kekuasaan mereka mencakup seluruh kalangan, bahkan para khalifah sekalipun.

Lisan mereka masih tajam dalam memberikan kritikan dan cacat kepada setiap orang yang menyimpang dari jalan lurus yang telah digariskan agama. Tidak membeda-bedakan siapa pun pelakunya.
Pendapat mereka dijadikan sebagai rujukan dalam setiap permasalahan, baik dalam urusan dunia maupun agama. Tidak terkecuali para khalifah saat itu, seperti Mu’awiyah dan sebagainya. Mereka semua mengakui keabsahan kekuasaan tak terbatas yang dimiliki para ulama semacam ini. Bahkan, mereka menjadikan para ulama sebagai penolong dalam menegakkan kebaikan dan perbaikan. Mereka tidak akan berani menetapkan suatu keputusan tanpa melibatkan para ulama.

Para penguasa yang otoriter sekalipun tak berani mendahului para ulama. Sebab, mereka sadar betul bahwa ulama berkuasa di atas kekuasaan mereka. Namun, mereka mulai mengadakan manuver dan langkah-langkah untuk melemahkan para ulama. Terkadang dengan metode tebar pesona untuk mengangkat pamornya, atau dengan berpura-pura baik di hadapan mereka. Tapi, kadang juga menggunakan cara kasar, konfrontasi terbuka dan dengan sengaja melanggar peraturan sebagai bentuk nyata pembangkangannya.

Dahulu Muawiyah r.a mengangkat anaknya sebagai putra mahkota, dan memaksa seluruh rakyat untuk berbaiat kepadanya, baik dengan cara keras maupun lunak, sehingga ia berhasil mewujudkan keinginannya. Namun begitu, ia masih memandang baiat ini masih seperti sandiwara, selama ’Ubâdalah (Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Umar bin Khathab, Abdullah bin Amr bin ‘Ash) dan Hasan belum mau berbaiat kepadanya. Penyebab utamanya adalah mereka memiliki kapabilitas keilmuan yang tidak bisa dianggap enteng. Selain itu, mereka juga memiliki tempat khusus di hati umat Islam. Oleh karena itu, Mu’awiyah r.a memutar haluan dengan menggunakan siasat yang didukung pedang.

Hal yang sama juga dipraktikkan oleh anak-anak Marwan setiap kali ada ulama yang absen dari baiat serupa, sebagaimana nasib yang dialami Sa’id bin Musayyib. Praktik semacam ini masih berjalan di kalangan para penguasa diktator selama para ulama masih memiliki hak berkuasa dalam ruang lingkup yang tak terbatas. Hingga suatu ketika di mana urusan ini beralih ke tangan generasi lain. Yaitu ketika kekuasaan jatuh ke tangan para amir, panglima, dan tentara. Di sisi lain, kekuasaan ini lepas dari genggaman para ulama dan khalifah secara bersamaan.

Seakan ini mengisyaratkan sebuah hukuman bagi para khalifah yang berani melonjak, juga sebagai hukuman bagi ulama yang rela mundur dari jabatan kekuasaan tak terbatas.
Selain praktik semacam ini terjadi dalam urusan baiat, ia juga terjadi dalam semua permasalahan lain yang diperebutkan oleh kedua penguasa ini.

Walaupun kondisinya seperti ini, para ulama masih tetap dalam posisi sebagai representasi dari kebenaran hakiki. Merekalah yang memegang kendali umat yang hakiki di tempat yang tak tersentuh oleh kekuasaan pemerintah yang semu. Mereka masih terjaga dan siaga menghadapi setiap peristiwa yang dihadapi umat Islam. Setiap kali mereka menemukan bayangan hantu bid’ah, dengan sigap mereka langsung menepisnya. Setiap kali mereka merasa ada kesesatan dan kemungkaran dalam agama, dengan cepat mereka merubahnya dengan perkataan dan perbuatan.

Saking hati-hatinya, mereka menyikapi dosa kecil seperti dosa besar. Mereka tidak terlalu gampang memberikan rukhshah, keringanan hukum. Langkah ini mereka lakukan sebagai bentuk antisipasi untuk menutup semua pintu yang menjurus kepada perbuatan bid’ah dan kesesatan dalam agama. Mereka selalu bersikap dengan landasan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dengan demikian, landasan berpikir mereka adalah dalil yang tidak mungkin menyesatkan; mereka bersandar pada hujah yang tak terbantahkan. Maka sudah sepantasnya jika seluruh umat memilih mereka sebagai rujukan untuk tempat bernaung sehingga lahirlah kesatuan beragama yang sama sekali tidak bisa dipecah belah, dan tidak berbeda-beda pendapat. Sampai ketika mereka terkena fitnah perpecahan antar mazhab, baik yang berhubungan dengan permasalahan prinsip-prinsip agama maupun cabang-cabangnya. Fanatisme mazhab semacam inilah yang menutupi kebenaran bagi mereka.

Dampaknya, secara umum, umat Islam memandang mereka tidak seperti sebelumnya, ketika mereka bersatu di bawah bendera agama. Persatuan yang menjamin keutuhan eksistensi mereka di dunia, menjaga keutuhan ilmu, dan menjamin keselamatan mereka dari perbedaan yang hanya sebatas dilandasi aspek kepentingan dan keuntungan masing-masing, yang ujung-ujungnya akan menyeret mereka ke dalam perpecahan yang berakibat kerusakan parah yang harus mereka tanggung.

Inilah peyebab melemahnya kekuasaan yang mereka miliki, sampai akhirnya kekuasaan ini pun diperjualbelikan di antara para penguasa jahat dan zalim dan komandan jahat dan bodoh. Mereka bersatu di atas satu tujuan, yaitu menindas orang awam. Mereka bersekongkol sehingga terbentuk duet maut yang menebar malapetaka bagi umat.

Para penguasa senantiasa membuat makar untuk menjauhkan kedudukan para ulama—setelah sekian lama—dari posisi sebagai pemimpin spiritual umat Islam. Kemudian mereka menggantinya dengan aktor-aktor baru yang dapat mereka dikte untuk menipu orang awam. Mereka nobatkan tokoh-tokoh dengan memberinya topeng agama supaya bisa menarik simpati umat karena kebesaran namanya. Padahal, sejatinya mereka adalah orang-orang yang tidak merasa membutuhkan ilmu karena memang bukan ahlinya. Mereka meminta bantuan dari para penguasa untuk mendukung kekuatannya. Sehingga kedua belah pihak bersepakat untuk saling berbagi rekomendasi dan berbagi keuntungan demi kepentingan masing-masing dengan syarat harus mendiamkan setiap kemungkaran yang terjadi.

Artinya, ulama menyesatkan penguasa, dan sebaliknya, penguasa merendahkan ulama. Sejatinya, penyesatan dalam urusan agama merupakan sarana menuju kehinaan di dunia. Umat pun terninabobokan dengan tepukan atas nama agama, dengan kebodohan yang dihiasi, dengan menjauhkan ilmu, dengan sesuatu yang katanya mendekatkan jalan mereka ke surga padahal hakikatnya tidak, tapi justru menjauhkannya dengan perbuatan-perbuatan bid’ah.

Dalam hal ini para ulama lalai, mereka lelap dalam tidur panjang yang jauh lebih lama daripada tidurnya Ashâbul Kahfi. Ketika mereka membuka matanya, mereka dihadapkan pada agama baru yang bukan merupakan agama sebelumnya. Lalu mereka poles agama tersebut agar terlihat samar di mata umat, sampai mereka mau mengikutinya. Padahal para ulama tersebut tak lain hanyalah para pengikut dan pengekor penguasa, meskipun sebelumnya mereka menjadi panutan umat.

Sebagai bukti, mereka menjadi pemberi label dan rekomendasi syar’i bagi para penguasa. Mereka memberikan kesaksian bahwa para pejabat itu adalah orang-orang yang sempurna dan mulia. Termasuk mereka berikan legalitas syar’i kepada para pelaku bid’ah yang menobatkan diri mereka sebagai ulil amri yang harus dihormati dan dijunjung tinggi. Tentu dengan makna yang mereka selewengkan dari makna sebenarnya yang digunakan dalam agama.

Tidak cukup sampai di situ, bahkan mereka berani lancang menyematkan sifat-sifat ketuhanan yang hanya layak dimiliki Allah kepada mereka.

Para penguasa pembuat bid’ah uluhiyah semacam ini menyadari kecerobohan para ulama yang sangat berambisi mengejar keuntungan dunia yang hina. Mereka juga memahami bahwa para ulama akan terjerumus dalam kelezatan makanan ”kotor”. Maka mereka tuntun ulama itu dengan tali kekang di tangan mereka. Lalu mereka menyadari bahwa para ulama telah setuju dengan kehinaan dan kerendahan yang diberikan kepada dirinya. Maka, mereka berusaha untuk mengangkat citra dan pamor mereka dengan jalan membuat silau pandangan manusia terhadap mereka. Dalam hal ini para ulama sendiri yang menghinakan dirinya sehingga dengan mudah mereka dapat dihinakan dan direndahkan martabatnya.

Jadilah para ulama itu sebagai pengikut penguasa yang paling rendah dan hina. Mereka berguguran di depan meja jamuan yang dipersiapkan penguasa. Maka tak perlu heran jika dengan sukarela mereka menuruti kehendak penguasa hingga dalam permasalahan yang bersifat syahwat yang paling hina. Mereka memberikan kesaksian palsu dan rekomendasi atas nama agama bagi para penguasa, mereka halalkan kelezatan yang telah Allah haramkan. Sudah lama minuman itu campur, tapi yang tersisa tempayan adalah ampas.

Dalam kondisi separah inilah kita mendapati zaman kita dan para pelakunya. Beberapa tahun yang lalu, di jalan Manarah, Tunisia, aku melihat dengan mata kepalaku, seorang ulama yang sangat dihormati di kalangan ulama Universitas Zaitunah, membungkukkan badan untuk mencium tangan seorang penyeleweng agama, dan pembuat bid’ah yang sombong. Sekiranya aku diberi wewenang menilainya, kusebut ia sebagai budaknya. Dari situlah aku baru melihat langsung bagaimana sebuah berhala modern disembah, dan saya baru tahu bagaimana seorang ulama menjadi cela bagi ilmunya. Dalam benakku terbersit syair Al-Mutanabbi:
Suatu kaum jatuh cinta pada berhalanya
Tapi tidak pada bau busuknya

Jatuhlah kehormatan ulama tersebut dalam penilaianku. Aku tidak akan menyebut kebaikannya ketika masih hidup, dan tidak sudi menyebutnya sebagai almarhum sepeninggalnya. Kematiannya juga tidak kuanggap—seperti ulama lainnya—sebagai kerugian bagi Islam.
Allah tidak berbuat zalim sama sekali terhadap para ulama, tetapi mereka sendirilah yang telah menzalimi diri mereka. Mereka sama sekali tidak tahu berterima kasih atas limpahan nikmat ilmu yang mereka peroleh maka Allah merampas kembali buah dari ilmu tersebut, yaitu kemuliaan, kekuasaan, keimaman, dan kepemimpinan.

Kekosongan dalam ranah kekuasaan yang seharusnya dikendalikan oleh para ulama ini berakibat fatal terhadap akidah dan akhlak umat Islam, di antaranya terjebaknya umat islam secara sistemik ke dalam pengaruh kekuasaan para pembohong yang sama sekali tidak memberikan petunjuk, bahkan menyesatkan. Mereka menyesatkan umat dari jalan yang lurus. Mereka juga menyebarkan penyakit-penyakit mematikan kepada umat Islam. Di antara penyakit yang paling membahayakan umat ialah penjajahan, yang mendapatkan tunggangan dan toleransi dari ulama semacam itu hingga dapat mencapai tujuannya yang busuk terhadap Islam dan umat Islam.

Sekiranya para ulama itu adalah para komandan sejati, yang memiliki jiwa yang hidup seperti para pendahulu yang memiliki tekad kuat dan lurus, niscaya para penjajah akan menghadapi benteng kokoh di bumi bagian barat maupun timur yang tak terkalahkan.

Demi Allah, kewibawaan para ulama tidak akan diperoleh kembali sampai mereka mau melaksanakan sumpah setia yang telah Allah ambil dari mereka dalam menjelaskan kebenaran. Mereka harus bersatu dalam memerangi segala macam bentuk bid’ah dan kesesatan dalam agama, apapun itu istilahnya. Juga memerangi pemahaman menyimpang yang menggerogoti akidah umat dan berbagai penyimpangan yang memisahkan antara teori dan realitas umat dalam jarak yang jauh. Sehingga seluruh umat islam dapat melihat secara jelas semua perbendaharaan dan warisan terpendam di dalam kitabullah dalam penjelmaan manusia ideal, serta aturan kebenaran yang baik dan sempurna yang tersirat dalam sirah Nabi Muhammad s.a.w.
* * *

Sabtu, 17 September 2011

KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM


Oleh:
Fahrur Mu'is, M.Ag 
(Alumni Magister Pemikiran Islam, UMS)
Kepemimpinan dalam Islam (kekhilafahan) adalah pondasi yang mengokohkan prinsip-prinsip agama dan mengatur kepentingan-kepentingan umum hingga urusan rakyat berjalan dengan normal. Menurut Ad-Dumaiji,  kemuliaan dan ketinggian derajat bagi umat Islam, hanya dapat diraih dengan cara kembali berhukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, serta berjuang menegakkan khilafah Islamiyah yang akan menjaga agama Islam dan mengembalikan kemuliaan dan kehormatan umat Islam.[1]
Hilangnnya sistem khilafah setelah berumur 1300 tahun, merupakan pukulan politik bagi kaum Muslim.[2] Semenjak runtuhnya khilafah Utsmaniyyah (1924 M), tembok penghalang yang melindungi umat Islam dari penyerangan dan makar musuh telah runtuh. Hal itu sekaligus membentangkan jalan yang lebar bagi musuh-musuh Islam untuk melakukan invasi kapan pun mereka mau. Mereka mulai menginvasi negeri-negeri kaum Muslim dan berusaha menjauhkan Islam dari kehidupan manusia dalam semua aspek.[3]
Pasca runtuhnya khilafah inilah kondisi politik dan peradaban umat Islam berada pada periode terburuk. Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Baihaqi telah memberikan isyarat tentang periodisasi perjalanan umat ini. Pertama, periode nubuwwah, yaitu masa ketika umat Islam hidup bersama Rasulullah. Kedua, periode khilafah ala minhajin nubuwwah, yaitu masa Khulafaur Rasyidin yang berlangsung kira-kira 30 tahun. Ketiga, periode mulkan ‘adhan, yaitu masa di mana para raja atau penguasa suka menindas, meski sistem pemerintahnya secara formal berlandaskan Islam. Menurut sebagian ahli sejarah Islam, periode ketiga ini dimulai sejak berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin sampai berakhirnya kesultanan Utsmaniyyah. Keempat, periode mulkan jabbriyyan, yaitu masa di mana umat Islam hidup di bawah sistem penguasa atau raja-raja yang sekuler. Setelah berakhir periode keempat ini, sejarah akan berulang kembali ke masa khilafah ala minhajin nubuwwah. Adapun masa sekarang ini dikategorikan sebagai periode mulkan jabbriyyan di mana umat Islam hidup dalam suasana sistem penguasa atau raja-raja sekuler.[4]
Pada periode ini umat Islam hidup terpecah belah di negara-negara kecil yang lemah. Mereka terbagi-bagi atas dasar letak geografis dan kebangsaan. Hal ini pula yang menjadikan umat Islam lemah dalam menghadapi kekuatan musuh yang mengancam. Di mata dunia umat Islam tidak memiliki hak perlindungan yang sama dengan umat dan bangsa lain. Invasi militer terhadap umat Islam di Afghanistan, Irak, dan Palestina oleh Amerika dan Israel akhir-akhir ini adalah bukti yang tak terbantahkan.
Hidup di bawah sistem sekuler menjadikan mereka tidak berkutik untuk menerapkan hukum-hukum Allah, khususnya dalam masalah negara dan kemasyarakatan. Akibatnya, upaya-upaya mereka dalam memberantas penyakit-penyakit masyarakat seperti halnya kriminalitas, dirasa kurang efektif.[5]
Selain itu, khilafah atau imamah (kepemimpinan) merupakan salah satu unsur terpenting kesatuan umat Islam. Menurut Hussain Ali Jabir, unsur-unsur kesatuan umat Islam yang terpenting ialah:
1.      Kesatuan akidah.
Umat Islam mempunyai suatu sistem yang menghimpun setiap orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah secara ikhlas. Siapa yang tidak mengucapkannya, maka tidak termasuk bagian umat ini.
2.      Kesatuan ibadah.
Ibadah yang diwajibkan Allah kepada umat Islam adalah satu. Setiap Muslim diwajibkan shalat lima waktu sehari semalam, shaum pada bulan Ramadhan setiap tahun, zakat apabila sudah mencapai nishab, dan kewajiban-kewajiban lain dalam Islam.
3.      Kesatuan adat dan perilaku.
Setiap Muslim mempunyai keteladanan yang baik pada diri Rasulullah. Ini menumbuhkan kesatuan perilaku dan akhlak karena kaum Muslim dituntut untuk meneladani Rasulullah. 
4.      Kesatuan Sejarah.
Seorang Muslim tidak terikat oleh tanah air atau warna kulit tertentu dan hanya sejarah Islamlah yang menjadi ikatan dan kebanggaannya.
5.      Kesatuan bahasa.
Merupakan suatu yang alami jika bahasa Arab menjadi salah satu faktor pemersatu umat Islam. Umat Islam dituntut agar memahami Islam dan mengamalkannya.
6.      Kesatuan jalan.
Sesungguhnya jalan kaum Muslim adalah satu, yaitu jalan para nabi dan rasul sebagaimana disebutkan dalam Al-Fatihah: 6–7. Inilah jalan yang akan mengantarkan ke surga.
7.      Kesatuan dustur.
Sumber undang-undang (dustur) umat Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Kaum Muslim dilarang mengambil rujukan untuk menata dan mengatur gerakan mereka, kecuali dari apa yang diturunkan Allah dan dibawa Rasul-Nya.
8.      Kesatuan pimpinan
Umat Islam sepakat bahwa pimpinannya yang pertama adalah Rasulullah, kemudian para khalifahnya yang terpimpin. Masing-masing mereka menjadi pemimpin pada zamannya. Tidak ada kepemimpinan umat Islam lebih dari seorang khalifah. Sebab, kesatuan pimpinan merupakan simbol persatuan, kekuatan tubuh, dan kesatuan panjinya. Dengan mengangkat seorang imam untuk mengurusi persoalan umat, maka umat Islam akan mencapai kesatuan, kekuatan, dan kekukuhan bangunannya.[6]
Salah satu problem dalam masyarakat Islam adalah krisis kepemimpinan di tubuh umat Islam. Menurut Abul A’la Al-Maududi, catatan sejarah Islam mengungkapkan bahwa selama tiga belas abad, tidak ada konsep ideal selain Islam yang dapat mendikte kaum Muslim melakukan aksi besar macam apa pun. Islam adalah nafas mereka: hanya Islamlah yang menggerakkan mereka untuk mencapai kejayaan-kejayaan gemilang.[7] 
Oleh karena itu, di kalangan aktivis Islam banyak yang merindukan kembali tegaknya khilafah Islamiyah di dunia. Namun, kompleksnya masalah yang sedang dihadapi umat Islam, menjadikan mereka berbeda dalam memandang prioritas masalah yang dihadapi beserta solusinya.
Salah satu komponen umat Islam yang sangat antusias dalam mengusung pemikiran untuk menegakkan kembali khilafah adalah Hizbut Tahrir (HT). Menurut Hizbut Tahrir, akar masalah dari seluruh persoalan umat adalah lenyapnya Islam dari tampuk pemerintahan, sedangkan solusi atas seluruh persoalan umat adalah pendirian khilafah. Majalah Al-Wa’ie menyebutkan bahwa Hizbut Tahrir telah meneliti semua problem kaum Muslim dan mendiagnosisnya secara detail. Hizb akhirnya mampu menentukan akar masalahnya sekaligus merumuskan solusi yang tepat untuk menyelesaikannya. Akar masalah itu adalah lenyapnya Islam dari tampuk pemerintahan. Solusi yang tepat itu terwujud dalam upaya pendirian khilafah Islamiyah yang mengikuti metode kenabian.[8]
Hizbut Tahrir adalah kelompok/partai politik yang berideologi Islam, yang aktivitas utamanya adalah berpolitik. Sebagai kelompok politik, Hizbut Tahrir bertujuan untuk merebut kekuasaan dan mendirikan khilafah. HT bukanlah kelompok kerohanian, bukan kelompok akademis, pendidikan atau organisasi amal.[9]
Partai politik yang dimaksud oleh HT adalah sebuah kelompok yang aktivitas utamanya adalah politik. Taqiyuddin an-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir, mendefinisikan gerakannya sebagai berikut:
Hizbut Tahrir adalah partai politik yang berideologi Islam. Bercita-cita untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam melalui tegaknya Daulah Islam, yang akan menerapkan sistem Islam serta mengemban dakwah ke seluruh dunia. Hizbut Tahrir juga telah mempersiapkan tsaqafah khusus untuk gerakan, berupa hukum-hukum Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Hizbut Tahrir menyerukan Islam sebagai qiyadah fikriyah (kepemimpinan berfikir), yang melahirkan peraturan-peraturan, yang dapat memecahkan berbagai problematika manusia secara keseluruhan, baik itu problematika dalam bidang politik, ekonomi, budaya, kemasyarakatan dan lain-lain.[10]

Berbeda dengan Hizbut Tahrir, sebagian umat Islam melihat bahwa dilema yang dialami dunia Islam pada zaman ini bukan karena tidak adanya dakwah keluar dan bukan pula lantaran tidak adanya kemampuan menarik pemeluk-pemeluk Islam yang baru, namun sesungguhnya persoalannya terletak pada berpalingnya umat Islam dari ajaran agamanya.[11] Kemunduran umat Islam ini juga disebabkan oleh penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) sebagaimana yang pernah diisyaratkan Rasulullah.
Menurut pandangan Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, jika persoalan yang dihadapi umat mencakup berbagai aspek, baik akidah, ekonomi, maupun politik, maka perbaikan hendaklah dimulai dari masalah akidah yang merupakan inti dakwah para nabi dan rasul.[12]


[1] Abdullah Ad-Dumaiji, Al-Imamah Al-Udzma ‘Inda Ahlis Sunnah wal Jamaah, (Riyadh, Dar Thyyibah: tt), cetakan kedua, hlm. 565-566.
[2] Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, Menuju Jama’tul Muslimintelaah sistem jama’ah dalam gerakan Islam, (Jakarta: Robbani Press, 1999), cetakan V, hlm. vi.
[3] Abdul Mun’im Musthafa Halimah, Menuju Tegaknya Khilafah, (Solo: Pustaka Al-Alaq, 2006), cetakan I, hlm.13.
[4] Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, Menuju Jama’tul Muslimintelaah sistem jama’ah dalam gerakan Islam, (Jakarta: Robbani Press, 1999), cetakan v, hlm. vi-vii.
[5] Syabab Hizbut Tahrir Inggris, Bagaimana Membangun Kembali Negara Khilafah, (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2008), cet II, hlm. x.
[6] Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, Menuju Jama’atul MusliminTelaah Sistem Jamaah dalam Gerakan Islam, (Jakarta: Robbani Press, 1999), cetakan V, hlm. 57-62.
[7] Abul A’la Al-Maududi, Sistem Politik Islam, (Bandung: Mizan, 1995), cetakan IV, hlm. 34.
[8] Al-Wa’ie no. 78 tahun VII, Februari 2007, hlm 18.
[9] Hizbut Tahrir, Mengenal Hizbut Tahrir dan Strategi Dakwah Hizbut Tahrir, (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2008), cetakan II, hlm. 3.
[10] Taqiyyudin An-Nabhani, Mafahim Hizbut Tahrir, (Jakarta: Hizbut Tahrir Indonesia, 2008), cetakan IV, hlm. 127.
[11] Sayyid Abul Hasan Ali Nadwi, Derita Dunia Akibat Kemunduran Umat Islam, (Jakarta: Fadlindo, 2006), cetakan I, hlm. XXXI.
[12] Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, Manhaj Da’wah Para Nabi, (Jakarta: GIP, 1987), cetakan I, hlm. 103-104.

Senin, 03 Januari 2011

MUSLIMAH JUGA HARUS BELAJAR

Menuntut Ilmu itu Wajib Bagi Muslim dan Muslimah. Islam memuliakan kaum wanita dan memperhatikan pendidikan yang baik terhadap mereka. Mendidik kaum wanita sama saja dengan mendidik sebuah generasi. Di belakang mereka ada anak-anak kaum Muslim yang akan menjadi generasi penerus pembela kebenaran dan penegak agama Islam.


Rabu, 07 April 2010

TIGA AGENDA PENYESATAN UMAT

Oleh: Abu Najib Abdillah

Para agen liberal di negeri ini, punya tiga agenda besar untuk menjauhkan umat Islam dari ajaran agamanya. Tidak tanggung-tanggung, mereka disokong penuh oleh para donatur dari Barat. Bagaimana kita bersikap?

Liberalisasi Islam di Indonesia, secara sistematis telah dijalankan sejak 40 tahun yang lalu. Tepatnya pada awal tahun 1970-an. Secara umum ada tiga bidang penting dalam ajaran Islam yang menjadi sasaran liberalisasi, yaitu (1) liberalisasi bidang akidah, dengan penyebaran pluralisme agama, (2) liberalisasi bidang syariah, dengan melakukan perubahan metodologi ijtihad, dan (3) liberalisasi konsep wahyu, dengan melakukan dekonstruksi terhadap Al-Qur'an.

Di antara strategi orang-orang liberal yang paling menonjol untuk menyesatkan umat Islam, ada tiga hal, yaitu:

1.Liberalisasi akidah Islam

Liberalisasi akidah Islam dilakukan dengan cara menyebarkan paham pluralisme agama. Paham ini menyatakan bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi, menurut penganut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama.

Penyebaran paham ini sudah sangat meluas. Dilakukan oleh para tokoh, cendekiawan, dan para pengasong ide-ide liberal. Berikut ini di antara pernyataan mereka.

Ulil Abshar Abdalla mengatakan, "Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar." (Majalah Gatra, 21 Desember 2002). Ia juga mengatakan, "Larangan beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi." (Kompas, 18/11/2002).

Pada edisi sebelumnya, masalah ini sudah dibahas secara detail. Ringkasnya, ini adalah paham syirik modern yang jelas bertentangan dengan firman Allah, "Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu ) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Ali Imran: 85).
Demikian pula, bertentangan dengan sabda Rasulullah, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidak seorang pun dari kalangan umat ini yang mendengarkan tentang (kenabian) aku, baik dari kalangan Yahudi maupun Nasrani kemudian dia tidak beriman terhadap apa yang aku bawa kecuali ia termasuk penduduk neraka.” (HR Muslim).

2. Liberalisasi Al-Qur'an

Cara lain untuk mengaburkan kebenaran ajaran Islam ialah dengan dekonstruksi kitab suci atau mengkritik Al-Qur'an. Di kalangan Yahudi dan Kristen, fenomena ini sudah berkembang pesat. Pesatnya studi kritis Bible itu telah mendorong kalangan Kristen-Yahudi untuk "melirik" Al-Qur'an dan mengarahkan hal yang sama terhadap Al-Qur'an.
Hampir satu abad lalu, para orientalis dalam bidang studi Al-Qur'an bekerja keras untuk menunjukkan bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang bermasalah sebagaimana Bible. Mereka berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum muslimin bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah, bahwa Al-Qur'an adalah satu-satunya kitab suci yang bebas dari kesalahan.

Anehnya, saat ini suara-suara yang menghujat Al-Qur'an justru lahir dari lingkungan perguruan tinggi Islam. Mereka menjiplak dan mengulang-ulang apa yang dahulu pernah disuarakan para orientalis.

Contohnya adalah yang ditulis dalam buku Menggugat Otentisitas Wahyu, hasil tesis master di Universitas Islam Negeri Yogyakarta yang ditulis oleh Aksin Wijaya. Secara terang-terangan ia menhujat isi Al-Qur'an. Ia menulis, "…. Karena itu, kini kita diperkenankan bermain-main dengan Mushaf tersebut, tanpa ada beban sedikit pun, beban sakralitas yang melingkupi perasaan dan pikiran kita." (Aksi Wijaya, Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan [Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004], hlm. 123).

3. Liberalisasi Syariat Islam

Inilah aspek yang paling banyak muncul dan menjadi pembahasan dalam bidang liberalisasi Islam. Hukum-hukum Islam yang sudah pasti dibongkar dan dibuat hukum baru yang dianggap sesuai dengan perkembangan zaman. Salah satu hukum yang banyak dijadikan objek liberalisasi adalah hukum dalam bidang keluarga. Misalnya, dalam masalah perkawinan antar-agama, khususnya antara muslimah dengan laki-laki non-muslim.

Salah satu contohnya ialah karya kaum liberal di Paramadina dalam merombak hukum Islam. Dalam buku Fiqih Lintas Agama ditulis, "…. bahwa wanita Muslim boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, atau pernikahan beda agama secara lebih luas amat diperbolehkan, apa pun agama dan aliran kepercayaannya." (Mun'im Sirry (ed), Fiqih Lintas Agama [Jakarta: Paramadina & The Asia Foundation, 2004], hlm. 164).

Padahal, Al-Qur'an menjelaskan, "Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman…. (Al-Baqarah: 221).

Maka, sudah sewajarnya kita mewaspadai ketiga cara penyesatan tersebut. Ya Allah, tunjukilah kami ke jalan yang lurus. (Diikhtisar dari Liberalisasi Islam di Indonesia, tulisan Adian Husaini)

Senin, 01 Maret 2010

Belajar dari Dakwah Aa Gym

Pendahuluan

Sesungguhnya, dari dahulu hingga sekarang setiap rasul memiliki dua tugas yang sama, yaitu menyerukan tauhid dan menjauhi thaghut. Tugas mulia tersebut kemudian dilanjutkan oleh para ulama, kiayi, mubalig, dan dai.

Kedua tugas tersebut dijelaskan Allah dalam firman-Nya:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.’" (An-Nahl: 36).

Ibnu Katsir menafsirkan bahwa seluruh rasul yang diutus Allah menyeru manusia untuk beribadah kepada Allah dan melarang mereka dari ibadah kepada selainnya. Sementara itu, menurut Al-Qurthubi, yang pertama ayat tersebut berisi perintah untuk menyembah Allah serta mentauhidkannya dan yang kedua berisi perintah untuk meninggalkan semua sesembahan selain Allah, seperti setan, dukun, berhala, dan semua yang menyeru pada kesesatan.

Jika dihubungkan dengan surat Al-Ashr ayat 1-5, maka setiap Muslim memiliki empat kewajiban. Yaitu, berilmu, mengamalkan ilmu, mendakwahkan ilmu, dan bersabar dalam ketiganya.

Dakwah sendiri memiliki beberapa manfaat, yakni tiada orang yang lebih baik perkataannya dibandingkan orang yang mengajak kepada agama Allah, orang yang berdakwah mendapat predikat orang yang beruntung, dan orang yang berdakwah akan mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya.

Oleh karena itu, dakwah ini tidak hanya menjadi tugas para dai, tetapi juga tugas bagi setiap Muslim kapan saja dan di mana saja, baik secara individu maupun berjamaah.

Bertolak dari sini, dalam tulisan ini penulis akan mengkaji fenomena dakwah Abdullah Gymnastiar atau yang populer dengan sebutan Aa Gym. Fokus tulisan ini adalah pada pemaparan dan analisa terhadap dua unsur dakwah, yaitu Aa Gym sebagai dai dan tema manajemen kalbu sebagai prioritas tema yang disampaikan kepada masyarakat.

Konsep Dakwah Aa Gym

Aa Gym lahir dengan nama asli Yan Gymnastiar di Bandung, pada tanggal 29 Januari 1962. Ketika berangkat haji pada tahun 1987 ia mendapat nama tambahan Abdullah. Selanjutnya, orang banyak memanggilnya dengan Aa (Sunda: kakak) Gym.

Semangat belajar agama Aa Gym banyak terinspirasi oleh adiknya, Agung Gun Martin, yang meskipun lumpuh, tapi memiliki keimanan yang lebih kuat. Semangat tersebut lebih kuat setelah Aa Gym mimpi bertemu dengan Rasulullah.

Sesudah belajar dan mulai memahami agama, ada kerinduan yang aneh di hati Aa Gym, yaitu semangat untuk shalat berjamaah tepat waktu. Di samping itu, ia juga sering menangis dan hatinya bergetar ketika mendengar nama Allah serta menyendiri di masjid.

Hal itu ia lanjutkan dengan berkelana mencari ilmu dan guru ngaji. Di antara ustadnya ialah KH. Junaidi dari Garut dan KH Choer Affandy dari Tasikmalaya. Seiring dengan bertambahnya ilmu agama, Aa Gym mulai mengembangkan dakwahnya.

Dakwah pertama kali yang ia lakukan ialah dakwah pada diri sendiri, keluarga, dan lingkungan rumah. Dakwah di lingkungan rumah ini ia mulai di masjid At-Taqwa, yang tepat berada di depan rumah orang tuanya. Ia juga mengadakan pengajian di rumah orang tuanya. Tidak hanya itu, dakwah tersebut juga ia lakukan di rumah kontrakannya. Setelah itu, Aa Gym melanjutkan dakwahnya ke seantero kota dan selanjutnya untuk Indonesia secara lebih luas.

Dalam perkembangan selanjutnya, Aa Gym akhirnya mendirikan Pesantren Daarut Tauhiid (DT) yang diharapkan bisa menjadi miniature realita bagaimana Islam bisa menjadi solusi bagi lingkungannya. Pesantren tersebut sengaja didesain menjadi pesantren yang benar-benar berbaur dengan masyarakat atau dikenal dengan konsep tanpa batas (virtual).

Daarut Tauhiid juga diupayakan menjadi sebuah percontohan lembaga mandiri yang tidak bergantung pada sumbangan dari umat, tetapi malah sebaliknya bisa menjadi lembaga yang menyantuni sebagian umat. Di antara amal usaha yang dilakukan untuk menunjang hal itu ialah dengan mendirikan super mini market, Cottage Daarul Jannah, dan Cafe Daarul Jannah.

Dalam perjalan dakwahnya, Aa Gym mengembangkan dan menggunakan tiga konsep yang dikenal dengan 3 M, yaitu:
1.Mulailah dari diri Sendiri
Menurut pandangan Aa Gym, seseorang tidak bisa mengubah orang lain tanpa diawali dengan mengubah diri sendiri. Jika diawali dengan diri sendiri maka setiap perkataan akan menjadi kekuatan yang menggugah dan merubah.

2.Mulailah dari hal yang kecil.
Menurut Aa Gym, sesuatu yang besar adalah rangkaian dari yang kecil. Kalau seseorang belum bisa melakukan sesuatu yang besar, hendaklah ia melakukan sesautu yang kecil. Sebab orang yang terbiasa melakukan sesuatu yang kecil maka Allah akan memberikan kesempatan untuk melakukan hal yang besar dengan cara yang terbaik.

3.Mulailah dari saat ini.
Artinya, siapa pun tidak tahu apakah ia masih memiliki waktu atau tidak, Allah-lah yang Mahatahu ajal manusia. Oleh karena itu, hendaknya seseorang memanfaatkan setiap kesempatan agar efektif menjadi kebaikan.

Aa Gym juga mengembang beberapa konsep yang ia kembangkan dalam dakwahnya, yang dikenal dengan manajemen qolbu. Di antara konsep tersebut ialah konsep dalam manajemen konflik 3 S, yaitu:
1.Semangat bersaudara
2.Semangat mencari solusi
3.Semangat maslahat bersama.

Demikianlah konsep dakwah yang dikembangkan oleh Aa Gym dengan Daarut Tauhiid dan manajemen qolbunya. Diharapkan kaum Muslim dapat mengambil manfaat dari konsep tersebut, tentunya dengan memerhatikan kelebihan dan kekurangannya.

Dakwah Aa Gym berkembang pesat ke seluruh pelosok Indonesia dengan bantuan media massa. Dia tidak hanya dikenal di kota Bandung, tapi juga di kota-kota besar lainnya. Pada waktu itu, dia sering mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan konsep dakwahnya melalui media masa nasional, baik cetak maupun elektronik. Materi dakwah yang dia sampaikan fokus pada manajemen qolbu untuk perbaikan pribadi dan masyarakat.

Dakwah untuk Kamera Tak Bertahan Lama

Aa Gym mengakui bahwa dakwah di televisi bukan hal yang mudah. Dakwah tersebut harus dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Dia bahkan takut tampil jika tidak dengan kesiapan hati dan ilmu memadai. Aa Gym menyadari bahwa dakwahnya dulu tidak apa adanya. Banyak hal yang disesuaikan dengan kebutuhan kamera alias televisi, atau sutradara. Sekarang Aa tidak mau lagi.

Menurut Aa Gym, dakwah di televisi penuh dengan rakayasa yang bisa membuat kemasannya kurang bermanfaat. Hal itu karena televisi membutuhkan sesuatu yang menarik untuk ditonton. Di situlah ujian kelapangan, pujian, dan penghormatan menghampiri dai yang naik daun seperti dirinya. Maka, wajar saja jika banyak dai yang berdakwah lewat telivisi tidak mampu menghadapi ujian tersebut. Bahkan, tak sedikit yang terjebak dalam salah tujuan dan kemunafikan.

Surutnya dakwah Aa Gym di televisi bermula ketika media massa memberitakan kisah poligaminya dengan seorang janda bernama Alfarini Eridani. Pasca berita tersebut, Aa Gym seakan hilang ditelan bumi. Belakangan dia jarang tampil di televisi dan media cetak lainnya. Pemberitaan media yang bertubi-tubi itu melahirkan stigma yang salah soal poligami. Berbagai hujatan tertuju padanya, terutama dari ibu-ibu yang selama ini menjadi penggemarnya.

Evaluasi Perjalanan Dakwah

Setelah dakwah Aa Gym surut, dia mengevaluasi perjalanan dakwahnya yang telah berlangsung selama 22 tahun. Salah satu hasilnya, dia harus hati-hati terhadap apa yang disampaikan dan jangan sampai bersifat munafik. Yakni, menyampaikan kepada orang lain, tapi dirinya sendiri tidak mengamalkannya. Apa yang keluar dari mulut, harus sesuai dengan apa yang ada di hati.

Aa Gym memandang bahwa ukuran sukses bukanlah terkenal dan dipuji. Menurutnya, sukses seperti itu justru cobaan yang lebih berbahaya. Sadar akan kekhilafan yang dilakukan dalam dakwah sebelumnya, Aa Gym pun bertafakur memuhasabah diri. Ada dua hal yang dia evaluasi. Pertama, memeriksa niat; apakah sesuai antara yang disampaikan dengan yang dilakukan. Apakah selama ini ada tujuan selain Allah? Kedua, memeriksa kemunafikan; apakah selama ini ada sifat-sifat munafik yang bersemayam dalam diri? Bisa jadi selama ini dirinya banyak pura-pura dalam berdakwah.

Jika dulu Aa Gym fokus memperbaiki umat, maka dia sekarang lebih fokus memperbaiki diri. Tema dakwah yang disampaikan Aa Gym pun berubah. Dahulu akhlak dan sekarang tauhid. Dia menuturkan, “Kalau tauhid sudah kokoh, akhlak akan keluar dengan sendirinya. Akhlaknya juga murni, tidak dibagus-baguskan karena orang. Kita baik karena ingin orang lain baik. Kita senyum karena ingin dianggap rama. Ini bukan termasuk akhlakul karimah.”

Aa Gym juga mengevaluasi bahwa Darut Tauhiid itu diawali dengan keyakinan yang kuat kepada Allah. Tapi, ketika Allah menguji dengan popularitas, banyaknya tamu, dan melimpahnya uang, tauhidnya pun bergeser.

Analisa

Pemaparan di atas menunjukkan bahwa dakwah yang dilakukan untuk mengejar popularitas tidak akan bertahan lama. Dakwah semacam itu tidak mampu memberi pengaruh yang signifikan bagi perbaikan individu dan masyarakat. Tujuan dan orientasi dakwah Aa Gym dengan manajemen qalbunya yang memprioritaskan perbaikan akhlak daripada tauhid ternyata menurut fikih dakwah hal itu sudah melenceng.
Seharusnya, tujuan dan orientasi dakwah yang dipegang oleh Aa Gym tidak boleh lepas dari tiga hal berikut ini.

1.Membangun masyarakat Islam sebagaimana para rasul yang memulai dakwahnya di kalangan masyarakat jahiliyah. Para rasul itu mengajak manusia untuk memeluk agama Allah, menyampaikan wahyu Allah kepada kaumnya, dan memperingatkan mereka dari syirik kepada Allah.
2.Dakwah dengan melakukan perbaikan pada masyarakat Islam yang terkena musibah berupa penyimpangan dan tampak di dalamnya sebagian dari kemungkaran-kemungkaran, serta diabaikannya kewajiban-kewajiban oleh masyarakat tersebut.
3.Memelihara keberlangsungan dakwah di kalangan masyarakat yang telah berpegang pada kebenaran, yaitu dengan pengajaran terus-menerus, tadzkir (pengingatan), tazkiyah (penyucian jiwa), dan ta’lim (pendidikan).

Setiap dai harus selalu berpegang pada ketiga tujuan dakwah ini, yaitu menyerukan tauhid, memperbaiki penyimpangan yang terjadi di masyarakat, dan memelihara keberlangsungan dakwah. Ketiga hal ini saling berkait dan tidak boleh diabaikan salah satunya.

Berdasarkan pemaparan di atas, diketahui bahwa Aa Gym menyadari kekeliruannya dalam masalah pokok ini. Dia bahkan berpesan kepada para dai muda yang sedang naik daun untuk berhati-hati terhadap jebakan popularitas, penghargaan, pujian, dan penghormatan. Menurutnya itu bukan tanda kesuksesan melainkan cobaan yang besar dan sangat merusak bagi dirinya. Jika mereka tidak berhati-hati bisa berbahaya.

Salah satu sebab kegagalan dakwah Aa Gym terhadap masyarakat luas adalah tidak terpenuhinya faktor-faktor keberhasilan dakwah yang meliputi 5 hal. Kelima hal tersebut adalah pemahaman yang rinci, keimanan yang dalam, kecintaan yang kokoh, kesadaran yang sempurna, dan kerja yang kontinu.

Adapun secara personal, pada diri Aa Gym belum melekat sifat-sifat dai yang hakiki. Hal ini diakuinya sendiri bahwa dakwahnya dahulu disesuaikan dengan kebutuhan kamera atau sutradara. Padahal, pada seorang dai harus melekat delapan sifat pokok, yaitu amanah (terpercaya), shidq (jujur), ikhlas, rahmah (kasih sayang), lemah lembut, santun, sabar, perhatian terhadap obyek dakwah, tsiqah (komit), dan wa’iy (sadar).
Setiap dai hendaknya benar-benar memahami tabiat jalan dakwah. Jalan dakwah tidak ditaburi bunga-bunga harum, tetapi merupakan jalan sukar dan panjang. Sebab, antara hak dan batil ada pertentangan nyata. Dakwah memerlukan kesabaran dan ketekunan memikul beban berat.

Berkaitan dengan metode dakwah yang tampak dibagus-baguskan di depan kamera, maka seorang dai perlu sadar bahwa melaksanakan tugas dakwah di tengah masyarakat tentu tidak cukup hanya dengan retorika dan kefasihan mengucapkan berbagai dalil agama. Justru yang lebih penting dalam kegiatan dakwah adalah keteladanan dari juru dakwah itu sendiri. Dakwah akan lebih efektif dan membuahkan hasil yang maksimal manakala juru dakwah bisa mewujudkan satunya kata dengan tindakan. Kalau juru dakwah hanya pandai bermain retorika, tapi tidak sesuai dengan tindakan, akan membuat masyarakat enggan untuk mengikutinya. Untuk itu, kata kunci dari keberhasailan dakwah adalah keteladanan.

Fenomena lain yang tidak ideal dalam dakwah Aa Gym adalah dalam prioritas tema yang disampaikan. Aa Gym selalu menekankan dakwahnya pada tema pembentukan akhlak mulia dan mengabaikan masalah tauhid. Ini jelas tidak bisa dibenarkan.

Sesungguhnya, perbaikan umat dan masyarakat akan selalu dimulai dari perbaikan pribadi, dan perubahan pribadi dimulai dari perubahan diri yang diawali dari sisi-sisi hatinya. Perbaikan jiwa ini akan terjadi dengan adanya keimanan yang mantap dan penjernihan yang terus menerus. Adapun jika jiwa tetap berada dalam kubangan kerusakan dan kesesatannya, maka tidaklah ada gunanya perubahan undang-undang, dan tidak ada guna pula perubahan keputusan-keputusan, tidak pula kekuatan polisi.

Perlu dicatat bahwa bagian awal yang menjadi bagian dari perubahan yang ada dalam jiwa adalah perubahan akidah yang menggambarkan pandangan manusia secara keseluruhan terhadap wujud, serta sikap mereka terhadap makhluk dan khalik, pada materi dan ruh, dunia dan akhirat, yang gaib dan yang nyata. Jadi, perbaikan akidah, pengokohan, dan pemantapannya adalah satu hal paling mendasar untuk terjadinya sebuah perubahan yang ada dalam jiwa.


Penutup

Dari pemaparan di atas, kita bisa melihat bagaimana konsep dan fenomena dakwah Aa Gym. Konsep tersebut dalam batas-batas tertentu terbukti telah berhasil dalam mengembangkan dakwah dan masyarakat di Indonesia. Meskipun akhir-akhir ini citra Aa Gym menurun setelah berpoligami, namun kita harus tetap melihat konsep dakwahnya secara objektif.

Dilihat dari unsur-unsur dakwah, Aa Gym adalah seorang dai yang memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Sebagai manusia, ia juga bisa khilaf dan hatinya condong ketika diuji dengan popularitas dan harta yang berlimpah. Saat itulah dakwahnya mulai melenceng dari tujuan semula.

Adapun dilihat dari unsur dakwah yang lain, yakni maudhu’ atau tema, tema dakwah Aa Gym lebih memprioritaskan akhlak daripada tauhid. Akibatnya, akhlak mulia yang terbangun adalah palsu dan tidak ikhlas keluar dari hati. Seharusnya, tema dakwah yang menjadi prioritas untuk disampaikan adalah masalah tauhid karena ia merupakan kunci perubahan yang ada dalam jiwa.




Daftar Pustaka

Abdullah Gymnastiar. 2006. Aa Gym Apa Adanya. Bandung: MQ Khas.
Abdullah Gymnastiar. 2006. Jagalah Hati. Bandung: MQ Khas.
Ali bin Nayif Asy-Syuhud. 2009. Shahih Fadhilah Amal. Solo: Aqwam.
Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI
Hamdan Daulay. 2001. Dakwah di Tengah Persoalan Budaya dan Politik. Yogyakarta: LESFI.
Jum’ah Amin Abdul Aziz. 2000. Fikih Dakwah, Prinsip dan Kaidah Asasi dalam Dakwah. Solo: Era Intermedia.
Musythafa Masyhur. 2001. Fikih Dakwah. Jakarta: Al-I’tisham cahaya umat.
Musthafa Malaikah. 2001. Manhaj Dakwah Yusuf Al-Qaradhawi, Harmoni Antara Kelembutan dan Ketegasan. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Suara Hidayatullah, edisi 06, XXII, Oktober 2009, hal. 43
www.altafsir.com